-->

Halaman

    Social Items



BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Statistik adalah sekumpulan cara maupun aturan-aturan yang berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan (analisis), penarikan kesimpulan atas data-data yang berbentuk angka dengan menggunakan suatu asumsi-asumsi tertentu.[1] Statistik sangat penting dalam kegiatan sehari-hari manusia. Hal ini dapat dilihat bagaimana seseorang mampu meprediksi sesuatu dengan menggunakan alat bantu statistik, misalnya  pengamat ekonomi masyarakat dapat mengamati dan memprediksikan bagaimana pertumbuhan ekonomi masyarakat setiap tahunnya dengan menggunakan statistik. Contoh lainnya, dalam bidang politik dan pemerintahan, dapat memprediksi calon presiden atau pemimpin daerah yang akan terpilih dalam pemilihan umum melalui quick count yaitu perhitungan cepat menggunakan prediksi dari data yang dikumpulkan dari berbagai daerah. Bukan hanya pengamat ekonomi, politik dan pemerintahan, tetapi statistik juga sangat penting dan bermanfaat  dalam kegiatan sehari-hari pada disiplin ilmu lain atau bidang ilmu lain seperti bidang pendidikan, bidang sosial, bidang kedokteran, bidang industri dan bidang lainnya.
Statistik juga digunakan pada level perguruan tinggi tertentu, termasuk Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry  tidak terkecuali Fakultas Adab dan Humaniora khususnya Prodi S1 Ilmu Perpustakaan. Dalam buku panduan mahasiswa UIN Ar-Raniry, statistik adalah mata kuliah  yang menjadi syarat bagi mahasiswa agar dapat mengambil mata kuliah “Metodelogi Penelitian Ilmu Perpustakaan” pada semester selanjutnya dan juga sebagai pengetahuan dalam melakukan penelitian ilmiah dalam menganalisis data dari hasil penelitian.
Dalam melakukan sebuah penelitian ilmiah, statistik juga berperan penting terutama pada penelitian kuantitatif  dalam menganalisis dan mengolah data dari hasil penelitian. Manfaat atau kegunaan statistik dalam penelitian yaitu untuk mengetahui suatu kecenderungan dalam hasil  penelitian. Mampu menentukan kapan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial dalam menganalisis data penelitian, mampu menerapkan hitungan statistik dalam penelitian korelasional antar dua atau lebih variable, dapat mencari pengaruh dua atau lebih variable dengan penyelesaian regresi, dapat mengaplikasikan statistik di dalam menganalisis data penelitian dalam bidang Ilmu Perpustakaan Mampu menyajikan data dalam berbagai bentuk grafik.
Dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Mata Kuliah Statistik dijelaskan bahwa mata kuliah statistik bertujuan agar mahasiswa Ilmu Perpustakaan mampu mengerti pengertian dan konsep statistik serta mampu menerapkan statistik dalam menganalisis data hasil-hasil penelitian dan data di perpustakaan.[2]
Dalam penelitian kuantitatif, statistik merupakan metode utama yang digunakan untuk melakukan generalisasi terhadap hasil penelitian. Ketika seorang peneliti akan menarik kesimpulan umum menjadi lebih luas, maka di saat itu statistik sangat diperlukan.[3]
Akan tetapi, berdasarkan observasi beberapa mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan, ditemukan mereka mengalami kesulitan dalam menganalisis data kuantitatif. Hal ini mungkin diakibatkan oleh kemampuan dasar mahasiswa dalam pengolahan data statistik yang minim meskipun mereka telah mengambil mata kuliah statistik dengan bobot 3 SKS (2 jam 15 menit). Hal ini memunculkan pertanyaan bagi peneliti bagaimana pengaruh mata kuliah statistik terhadap kemampuan analisis data kuantitatif.  Dari latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Mata Kuliah Statistik Terhadap Kemampuan Analisis Data Kuantitatif Mahasiswa Prodi S1 Ilmu Perpustakaan Angkatan 2011 Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry”.

FULTEXT : CONTACT US

Pengaruh Mata Kuliah Statistik Terhadap Kemampuan Analisis Data Kuantitatif Mahasiswa Prodi S1 Ilmu Perpustakaan


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kualitas pelayanan perpustakaan adalah salah satu variabel yang sangat menentukan untuk mencapai kepuasan dan loyalitas pemustaka terhadap pemanfaatan perpustakaan. Dengan baiknya pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan maka akan menimbulkan kesan yang baik terhadap pemustaka, dan peran pustakawan dalam memberikan pelayanan kepada pemustaka sangat penting. Dalam hal ini, pustakawan harus profesional dalam menghadapi pemustaka yang membutuhkan informasi dengan cepat. 
Kualitas pelayanan merupakan ujung tombak yang sangat mempengaruhi kepuasan dari pemustaka. Pemustaka yang merasakan sesuatu yang lebih baik terhadap kualitas pelayanan tentunya dapat dikatakan merasa puas terhadap layanan-layanan yang diberikan oleh perpustakaan akan berimplikasi terhadap pendayagunaan layanan yang ada secara terus menerus. 
Pelayanan adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.  Pelayanan adalah suatu sistem yang memenuhi sesuatu kebutuhan publik, diorganisasikan baik oleh pemerintah maupun perusahaan swasta.  
Perpustakaan sebagai penyedia informasi dengan kinerja pustakawan yang ada harus sanggup memberikan sesuatu yang “lebih” baik dari pada lembaga-lembaga informasi komersil lain yang ada. Pelayanan perpustakaan dituntut untuk memberikan layanan yang terbaik yang dikehendaki oleh pemustaka. Untuk itu, perpustakaan harus memperhatikan  dan  merespon  keluhan-keluhan dan saran-saran yang dikemukakan pemakai jasa informasi  perpustakaan.  Dari penjelasan ini jelas bahwa pemustaka yang bisa mengukur suatu pelayanan yang ada di perpustakaan.
Keberhasilan perpustakaan sangat ditentukan oleh pelayanan yang diberikan. Menurut Kasmir, pelayanan merupakan suatu tindakan atau perbuatan seseorang atau organisasi (kumpulan orang) untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan, tindakan tersebut dapat diketahui melalui cara langsung  berhadapan  dengan  pelanggan  dan melayani  mereka  berupa tindakan yang dilakukan guna memenuhi keinginan akan pemustaka terhadap suatu produk atau jasa yang mereka butuhkan. 
Pelayanaan terhadap pemustaka merupakan tindakan yang  dilakukan oleh perpustakaan kepada pemustakanya, dengan pelayanan yang baik diharapkan dapat memenuhi keinginan setiap pemustaka. Perpustakaan atau organisasi  penyedia   jasa dituntut untuk dapat semaksimal mungkin memberikan pelayanan yang berkualitas kepada pemustaka. Setiap pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan tentunya selalu dinilai oleh pemustakanya, secara subyektif penilainnya terhadap suatu yang disediakan oleh badan atau organisasi tersebut. Penilaian ini merupakan sebuah respon terhadap pelayanan yang telah diberikan oleh perpustakaan atau organisasi penyedia jasa karena pemustaka telah merasakan kualitas pelayanan yang  diberikan memberikan kepuasan atau tidak layanan tersebut.
Pelayanan yang berkualitas dapat diidentifikasi melalui  kepuasan dan loyalitas penggunanya. Perpustakaan yang baik dapat diukur dari keberhasilannya dalam menyajikan pelayanan yang bermutu kepada pemustakanya karena semakin baik pelayanannya maka semakin tinggi  penghargaan  yang  diterima  oleh  perpustakaan.  
Menurut Parasuraman, terdapat 5 (lima) dimensi untuk menentukan kualitas pelayanan, yaitu : (a) Tangibles, meliputi fasilitas fisik, peralatan dan perlengkapan, serta penampilan personil, (b) Reliability, meliputi aspek-aspek kehandalan sistem pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan, (c) Responsiveness, meliputi ketanggapan untuk membantu mahasiswa dan menyediakan jasa dan pelayanan yang dibutuhkan, (d) Assurance, jasa yang diberikan memberikan jaminan keamanan, kompetensi sumber daya dalam pelayanan, (e) Empathy, kemudahan dalam mendapatkan pelayanan, keramahan, komunikasi, dan memahami kebutuhan konsumen. 
Kelima aspek kualitas jasa  apabila diterapkan secara bersama akan dapat membangun layanan yang berkualitas prima dan memuaskan pada sebuah organisasi, termasuk organisasi penyedia jasa informasi seperti perpustakaan. Dalam penelitian ini peneliti tidak bermaksud membahas semua kriteria di atas, tetapi peneliti hanya memfokuskan pada kriteria Tangibles, meliputi fasilitas fisik, peralatan, perlengkapan, serta penampilan personil. Perpustakaan sebagai penyedia jasa informasi harus dapat memberikan kepuasan kepada pemustakanya karena kepuasan yang diperoleh oleh pemustaka tentunya akan berimplikasi terhadap loyalitas pemustaka itu sendiri. Upaya perpustakaan untuk dapat memberikan kepuasan sehingga berefek pada loyalitas pemustakanya adalah meningkatkan kualitas pelayanan yang merupakan satu-satunya jalan atau tindakan yang dapat di tempuh. Pelayanan perpustakaan yang baik merupakan ujung tombak dari keberhasilan sebuah perpustakaan dalam menyediakan sumber daya informasi, di mana dengan kualitas pelayanan yang baik diharapkan akan memberikan kepuasan kepada pemustakanya, dan dengan kepuasan ini diharapkan akan berdampak pada meningkatkan loyalitas pengguna perpustakaan itu sendiri.
Menurut Kumar dkk, kualitas pelayanan yang baik akan menghasilkan kepuasan pelanggan  yang tinggi  yang dapat  meningkatkan loyalitas pelanggan.  Adapun menurut Bewen dan Chen, bahwa kepuasan pelanggan yang kecil menyebabkan perubahan loyalitas pelanggan secara dramatis. Hubungan kepuasan pelanggan dan loyalitas akan menimbulkan keinginan pelanggan untuk merekomendasikan kepada pihak lain. 
Loyalitas berasal dari bahasa inggris ‘loyal’ yang artinya setia. Kesetiaan adalah kualitas yang menyebabkan kita tidak menggemingkan dukungan dan pembelaan kita pada sesuatu.  Loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalam untuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk atau jasa terlebih secara konsisten dimasa yang akan datang, meskipun pengaruh  situasi dan usaha-usaha pemasaran mempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku. 
Menurut Salnes yang dikuutip oleh syarif Hidayatullah (2013). Terdapat 4 indikator yang digunakan untuk mengukur variabel loyalitas yaitu: (a) kebiasaan  transaksi, seberapa sering pemustaka mengunjungi perpustakaan, (b) pembelian ulang, kemauan pemustaka untuk memanfaatkan berbagai jasa/layanan yang disediakan oleh perpustakaan tanpa ada paksaan, (c) rekomendasi, mengajak orang lain untuk memanfaatkan jasa/pelayanan yang ada di pepustakaan, (d) kemamuan pemustaka untuk tetap memanfaatkan jasa/layanan yang disediakan  oleh perpustakaan. 
Secara harfiah, looyal berarti setia dan loyalitas diartikan sebagai suatu kesetian. Kesetiaan ini yang timbul tanpa ada paksaan tetapi timbul dari kesadaran sendiri. Adapun loyalitas pengguna adalah kesetiaan, pengabdian, dan kepercayaan yang diberikan atau ditujukan kepada pengguna, yang di dalamnya terdapat rasa cinta dan tanggung jawab dan perilaku yang terbaik.  
Jadi dapat disipulkan bahwa loyalitas pengguna ialah pengguna yang tidak hanya mengguna jasa dan mengunjungi berulang-ulang tempat tersebut, tetapi juga mempunyai komitmen dan sikap yang positif terhadap tempat jasa. 
Berdasarkan observasi awal peneliti melakukan wawancara terhadap beberapa pemustaka aktif di UPT Perpustakaan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, pemustaka mengeluh dengan fasilitas yang diberikan oleh pihak perpustakaan mengenai koleksi yang tidak sesuai dengan penempatan, panas, dan tempat penyimpanan tas/loker yang tidak ada kunci lemari sehingga membuat pemustaka kurang nyaman pada saat memanfaatkan perpustakaan karena teringat dengan barang bawaannya.  Berdasarkan pengamatan yang peneliti lihat di lapangan ruanngan tempat tempat penyimpanan tas/loker masih minim lemari yang disediakan sedikit tidak sesuai dengan jumlah pemustaka yang memanfaatkan perpustakaan dan tidak ada petugas khusus untuk menjaga loker sehingga membuat pemustaka merasa kurang nyaman.
Oleh karena itu, penelitian ini menarik untuk diteliti karena apabila pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan kurang memuaskan bagi pemustaka, maka akan memberikan kesan yang tidak baik terhadap loyalitas pemustaka. Berdasarkan pemikiran dan masalah di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang “PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP LOYALITAS PEMUSTAKA DI UPT PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS ISALAM NEGERI AR-RANIRY”

FULLTEXT : cONTACT uS

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP LOYALITAS PEMUSTAKA DI UPT PERPUSTAKAAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial karena manusia merupakan makhluk yang di dalam hidupnya tidak bisa lepas dari pengaruh manusia lain. Manusia dikatakan makhluk sosial, juga dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, serta adanya kebutuhan sosial (socialneed) untuk hidup berkelompok dengan orang lain. Semua itu seringkali didasarioleh kesamaan ciri atau kepentingan masing-masing.[1]

Sebagai makhluk sosial, individu dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan hidup yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku. Oleh karena itu setiap individu dituntut untuk menguasai keterampilan- keterampilan sosial dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya.

Keterampilan sosial dan penyesuaian diri menjadi semakin penting, apalagi sikap kepedulian kita ketika sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas, dimana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan. Hal ini dikarenakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita tidak  bisa terlepas dari keterampilansosial.[2]

Keterampilan social (social skill) merupakan bagian dari kecerdasan emosional (EQ) seseorang.  Kecerdasan emosional sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Keterampilan social, baik secara langsung maupun tidak langsung membantu seseorang untuk dapat menyesuaikan diri dengan standar harapan masyarakat dalam norma-norma yang berlaku di sekelilingnya atau istilah lainnya bias menjadikan seseorang untuk tetap mampu bertahan dalam kehidupannya meski dengan berbagai keadaan dan situasi  (survival). Kemamp- uan mengelola emosi minimal  dapat menghantarkan seseorang bertahan dalam mengatasi kesulitan, menghadapi tantangan atau mampu merespon kesulitan yang dihadapinyadengan baik.[3]

Social skill bukanlah kemampuan yang dibawa individu sejak lahir, tetapidiperoleh melalui proses belajar, baik belajar dengan orang tua, sebagai figur orang yang paling dekat maupun belajar dari teman sebaya dan lingkungan masyarakat. Social skill tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, member atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku, dan lain sebagainya.[4]

Menurut Parvez Ahmad dan Mohd Yaseen, pustakawan harus memiliki keterampilan manajerial yang terdiri dari keterampilan teknis, social skill & keterampilan konseptual. Keterampilan teknis merupakan proses ataupengeta-huan teknik dan kecakapan dalam bidang khusus. Keterampilan ini penting bagi seorang pustakawan karena untuk menjadikan sebuah perpustakaan yang profesional pustakawan harus benar-benar mengetahui tentang perpustakaan dan ilmu-ilmu di bidang perpustakaan. Social skill merupakan kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dengan orang-orang. Karena pustakawan berhubungan langsung dengan orang-orang, maka keterampilan ini sangat penting bagi pustakawan sehingga akan memperoleh loyalitas kunjung pemustaka.[5]

Seorang pustakawan juga harus memiliki keterampilan konseptual yang mengacu pada kemampuan untuk mengambil pandangan yang luas dan berpandangan jauh untuk organisasi dan masa depannya, kemampuannya untuk berpikir secara abstrak, kemampuannya untuk menganalisis kekuatan yang bekerja dalam situasi, kemampuan kreatif dan inovatif dan kemampuannya untuk menilai lingkungan dan perubahan yang terjadi di dalamnya. Dengan demikian, keterampilan teknis yang menyangkut tentang perpustakaan, keterampilan manu-sia menyangkut orang, dan konseptual menyangkut perhatian. Maka dari itu, keterampilan menejerial harus dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk menjadikan perpustakaan yang berkualitas.

Menurut Endang Fatmawati, pustakawan sebagai public pelayan masyarakat tentu banyak sekali kejadian maupun pengalaman saat berinteraksi dengan pengguna baik pengalaman yang baik maupun pengalaman yang buruk. Sedangkan pustakawan juga dituntut mampu mengenali perasaanya sendiri dan perasaan orang lain (pemustaka). Hal ini penting agar pustakawan mampu mengatasi tantangan dan tekanan dengan baik dari dalam maupun luar perpustakaan. Dari kesadaran itulah, pentingnya kepemilikan social skill bagi pustakawan. Pada era informasi ini, pustakawan harus mempunyai kemampuan melihat dunia luar dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Pustakawan harus memiliki social skill untuk meningkatkan intuisi, kepekaan ketika bekerja agar dapat memperoleh loyalitas kunjung dari pemustaka.[6]

Situasi yang ideal akan terwujud apabila pustakawan mengetahui kebutuhan dan hal apa yang diinginkan oleh pemustaka,terkadang pemustaka enggan menanyakan sesuatu kepada pustakawan tentang keperluan informasi yang dicari, pustakawan yang memiliki social skill yang tinggi akan tau gerak-gerik pemustaka melalui sikap pemustaka tersebut, oleh karena itu, pustakawan wajib memulai interaksi dengan pemustaka dan menanyakan tentang informasi yang dibutuhkan. Seorang pustakawan harus memiliki sociall skill yang tinggi, dengan adanya social skill, maka pengguna akan loyalitas  datang ke perpu-stakaan.[7]

Seorang pemustaka itu dapat dikatakan sebagai pemustaka yang loyal apabila seorang Pemustaka tersebut mempunyai komitmen yang kuat untuk kembali lagi ke perpustakaan, pustakawan    harus   mengetahui   bagaimana   cara   yang   harus   ditempuh    untuk membentuk loyalitas pelanggan (pemu-staka). Cara yang paling klasik digunakan untuk membentuk loyalitas pelanggan dapat dimulai dengan memberikan pelayanan dan komunikasi yang baik dengan pemustaka.Menurut Chris dan Powerdi kutip dari Samsul Bahrikepuasan konsumen merupakan komponen yang sangat menentukan bagi loyalitas,ia hanyalah satu dari banyak faktor yang menentukan apakah seorang calon pelanggan akan tetap setia atau segera berbalik pada kesempatan pertama.[8]

Social skill  pada dasarnya mencakup pelayanan yang diberikan perpus-takaan  kepada penggunanya yang disertai dengan  upaya yang profesional untuk menyiapkan layanan untuk kepuasan pemustaka. Pelayanan yang baik adalah pelayanan yang dilakukan secara ramah tamah, adil, cepat, tepat dan dengan etika yang baik sehingga memenuhi kebutuhan dan kepuasan bagi yang menerima. Pelayanan yang baik juga menjadi kewajiban utama setiap perpustakaan, mereka menyadari bahwa pelanggan itu adalah raja sehingga selalu berusaha memberikan pelayanan yang sebaik mungkin kepada pelanggan dengan selalu ramah, sigap dan selalu memberikan informasi yang dibutuhkan pelanggan.[9]

Social skill pustakawan juga sangat mempengaruhi terhadap loyalitas Kunjung pengguna, Keterlangsungan layanan referensi menuntut harus tingginya social skill untuk berorientasi dengan pengguna,artinya layanan yang tidak hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan pengguna,tetapi juga mampu mengetahui jenis kebutuhan informasi pengguna dan menciptakan pola interaksi yang baik dan lancar,sehingga tercipta loyalitas pada pengguna perpustakaan.[10]

Menurut hasil observasi awal yang peneliti lakukan dibagian pelayanan referensi perpustakaan Unsyiah, ditemukan bahwa pustakawan masih kurang maksimal dalam penerapan sosial skill, peneliti melihat saat pemustaka kesulitan dalam penelusuran koleksi bahan pustaka, rasa kepedulian  atau sosial pustakawan masih belum terlihat, semestinya seorang pustakawan yang professional harus memberikan pelayanan yang maksimal kepada pemustaka,hal ini dikhawatirkan akan mempengaruhi tingkat loyalitas  pengguna perpustakaan.

Meneurut hasil wawancara awal peneliti dengan pihak perpustakaan Unsyiah, dalam rangka memaksimalkan dan menciptakan profesionalitas/social skill pustakawan, perpustakaan Unsyiah telah memberikan pelatihan-pelatihan tentang pelayanan yang didasari pada undang-undang no. 43 tahun 2007 , pasal 14 ayat 1 tentang Perpustakaaan.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas , peneliti ingin meneliti lebih lanjut tentang pengaruh sosial skill pustakawan  terhadap loyalitas kunjung pemustaka di bagian pelayanan referensi UPT. Perpustakaan Unsyiah.

 full: Contact Us

PENGARUH SOCIAL SKILL TERHADAP LOYALITAS KUNJUNG PEMUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Perpustakaan perguruan tinggi merupakan intansi pada sebuah perguruan tinggi yang bertujuan menunjang pelaksanaan Tridharma perguruan tinggi.[1] Sejalan dengan era informasi global maka perguruan tinggi memiliki peranan dalam memberikan informasi dan dituntut untuk menfungsikan dirinya sebagai pusat pelestarian ilmu pengetahuan, pusat belajar, pusat penelitian, dan sebagai pusat penyebaran informasi. Agar tujuannya dapat terlaksana, perpustakaan perguruan tinggi harus menjalankan fungsinya dengan baik. Adapun fungsi perpustakaan perguruan tinggi menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi adalah fungsi edukasi, fungsi informasi, fungsi riset, fungsi rekreasi, fungsi publikasi, fungsi deposit dan fungsi interpretasi.

Perpustakaan dapat berfungsi sebagai pusat rekreasi jika perpustakaan dapat menyediakan koleksi rekreatif yang bermakna untuk membangun dan mengembangkan kreativitas, minat dan daya inovasi pengguna perpustakaan. Fungsi Perpustakaan sebagai rekreasi bagi pengunjung juga tertuang jelas dalam pasal 1 ayat 1 Undang-undang No.43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, yaitu "perpustakaan adalah institusi pengelola karya tulis, karya cetak dan/karya rekam, secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi  kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka".[3] Berdasarkan undang-undang tersebut terdapat salah satu tujuan utama pendirian perpustakaan yaitu untuk memenuhi kebutuhan rekreasi pengunjung. Rekreasi adalah penyegaran kembali badan dan pikiran, dapat juga dikatakan sesuatu yang menggembirakan hati dan menyegarkan seperti hiburan dan piknik.[4] Fungsi rekreasi ini dicapai tidak hanya dengan cara menghadirkan bacaan-bacaan yang menyegarkan, melalui fasilitas gedung yang nyaman dan representatif, ruangan dan interior yang mendukung, termasuk menghadirkan berbagai fasilitas seperti ruang dengan home theater untuk media audio visual, musik di ruang baca, serta pelayanan yang ramah dan bersahabat. Perpustakaan seharusnya mulai mengembangkan fungsi perpustakaan sebagai fungsi rekreasi. Dalam mengembangkan fungsi rekreasi terdapat faktor-faktor yang perlu di benahi seperti sarana dan prasarana serta pelayanan prima pustakawan. Salah satu perpustakaan yang dapat dimanfaatkan sebagai fungsi rekreasi adalah Perpustakaan Perguruan Tinggi Unsyiah Banda Aceh. Perpustakaan ini memiliki layanan yang dapat memberikan hiburan serta suasana berbeda kepada pengunjung dengan konsep layanan Relax and Easy.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Relax atau rileks berarti keadaan santai atau tidak tegang. Menurut Hassan Shadily easy berarti mudah[6]. Relax and easy mempunyai pengertian suatu kondisi psikis dimana seseorang mampu masuk pada kondisi yang tenang, dan tidak memerlukan banyak tenaga atau pikiran dalam mengerjakan sesuatu. Program relax and easy dapat membantu memberikan kesan puas dan segar pada pemustaka setiap kali berkunjung. Para pengunjung diharapkan tidak hanya mendapatkan informasi yang dibutuhkan, tapi juga merasa nyaman, gembira, senang, terhibur, segar, dan memperoleh kesan ketika berkunjung ke perpustakaan. Kenyamanan tersebut juga berperan pada tingkat konsentrasi pengunjung saat berusaha menangkap materi demi materi yang dibaca atau ditontonnya di perpustakaan. Dengan adanya layanan ini diharapkan dapat meningkatkan minat pengunjung mahasiswa pada UPT. Perpustakaan Unsyiah khusunya.

Berdasarkan wawancara awal dengan kepala UPT Perpustakaan Unsyiah, Dr.Taufiq Abdul Gani, M.Eng,Sc, selaku penanggung jawab program Relax and Easy, acara ini diadakan karena ingin menarik minat mahasiswa untuk berkunjung ke perpustakaan, karena selama ini perpustakaan hanya identik dengan membaca sedangkan perpustakaan itu seharusnya menjadi pusat aktivitas, namun hal ini belum terimplementasi dengan baik. Selain untuk menciptakan suasana perpustakaan unsyiah sebagai tempat membaca yang santai, kegiatan ini bertujuan untuk mewadahi kreativitas mahasiswa Unsyiah dibidang seni tidak hanya seni musik, tetapi juga akan ada penampilan seni lainnya. Acara ini diselenggarakan setiap Rabu siang pukul 14.00-15.00 WIB di lantai 2 perpustakaan Unsyiah. [7]

Berdasarkan uraian di atas, kegiatan relax and easy berlangsung dengan baik dan mendapat respon dari pemustaka, namun sejauh mana pengaruhnya kegiatan relax and easy terhadap minat kunjung mahasiswa pada UPT. Perpustakaan Unsyiah perlu diukur. Oleh karena ini penulis ingin meneliti bagaimana pelaksanaan fungsi rekreasi dengan konsep layanan relax and easy pada UPT. Perpustakaan Unsyiah sehingga dapat meningkatkan minat kunjung mahasiswa. Untuk mengetahui lebih jauh tentang hal tersebut, maka penulis melakukan penelitian dengan mengambil judul “Pengaruh Penerapan Program Relax And Easy Terhadap Minat Kunjung mahasiswa Pada UPT. Perpustakaan Unsyiah”

note: full (contact us)


PENGARUH PENERAPAN PROGRAM RELAX AND EASY TERHADAP MINAT KUNJUNG MAHASISWA DIPERPUSTAKAAN